Showing posts with label jamur. Show all posts
Showing posts with label jamur. Show all posts

Apr 10, 2010

Budi Daya Jamur Tiram Putih Dengan Modal Kecil

Budidaya Jamur Tiram Putih Dengan Modal Kecil

"Jamur ini juga sangat bagus di konsumsi karena memiliki kandungan protein 2 x lipat lebih baik dari protein asparagus, kubis dan kentang serta 4 x lipat dari kandungan protein pada wortel dan tomat. Jamur tiram putih juga baik untuk mencegah penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus karena..... "
Membuat lapangan kerja sendiri bukanlah hal yang susah tapi yang terpenting adalah adanya kemauan dan action kita. Salah satunya usaha yang bisa Anda coba adalah budidaya jamur tiram putih. Jamur Tiram putih (Pleuratus florida) merupakan salah satu jenis jamur yang saat ini menjadi alternatif pilihan sebagai makanan sehat yang layak dikonsumsi. Disamping rasanya yang lezat - bahkan mirip dengan daging ayam - juga memiliki kandungan gizi yang cukup bermanfaat, sehingga saat ini sudah menjadi pilihan bagi masyarakat sebagai makanan yang layak dikonsumsi. Hal tersebut menjadikan permintaan pasar akan jamur tiram semakin meningkat, bukan hanya dari dalam negeri tetapi juga permintaan dari luar negeri yang masih sangat besar peluangnya.
Hanya bermodalkan sekitar tujuh jutaan, seorang dapat memperoleh keuntungan bersih hingga delapan jutaan dalam waktu 6 bulan. Berarti ini pendapatan bersih per bulannya sekitar satu juta lebih. Bukankah ini peluang yang menggiurkan?.
Tavip (42), salah satu warga dukuh Karangasem desa Banaran kec. Sambungmacan, Kabupaten Sragen, sudah sekitar 4 tahun lalu mengembangkanbudidaya jamur tiram putih ini. Ia menceritakan tentang bagaimana mudahnya membudidayakan jamur tiram putih ini. Berikut ini tips-tips untuk membudidayakan jamur tiram putih untuk mendapatkan jamur yang besar dan putih bersih.
Tidak susah untuk mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan. Yang pertama adalah serbuk kayu. Kayu yang diperlukan adalah : tidak yang mengandung minyak atau bahan kimia, tidak bergetah, kering dan tidak busuk. Bahan yang kedua yakni bekatul yang baru dan tidak berbau apek. Bekatul ini berfungsi sebagai bahan nutrisi dan sumber karbohidrat. Bahan selanjutnya adalah kapur kawur, yang berfungsi untuk menjaga keasaman media dan sumber mineral. Sedang bahan yang keempat adalah Gips, yang digunakan untuk memperkokoh media tanam dalam polibag sehingga tidak mudah hancur atau rusak disamping sebagai sumber mineral. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pupuk TSP, digunakan untuk mempercepat pertumbuhan miselium dan tumbuh buah jamur.
Selain bahan utama diatas, bahan-bahan penunjang lainnya yakni kantong plastik ukuran 20 x 35 cm, paralon, kapas alat pemadat bisa botol atau pengepres dan aluminium foil.
Setelah bahan – bahan tersebut tersedia, serbuk kayu diayak dan dicampur dengan bahan-bahan lain, yakni bekatul, kapur kawur, gips, dan pupuk TSP. Beri campuran air secukupnya sampai merata agar tidak terlalu kering dan namun jangan terlalu becek. Masukkan campuran tersebut kedalam kantong palstik, kemudian ditekan dengan botol atau alat pengepres, lalu diberi ring / cincin paralon kemudian tutup dengan kapas. Lapisi dengan aluminium foil atau plastik ikat atau karet. Sterilkan bag log ke dalam autoklap dengan suhu 120 derajad Celcius selama 15 menit atau ke dalam drum yang panasi dalam suhu 90 – 110 Celcius selama 4 – 8 jam. Dinginkan baag log pada suhu kamar selama 24 jam.
Langkah selanjutnya adalah ”Inokulasi”. Yakni penularan atau penanaman bibit ke media tanam bibit yang digunakan bukan hasil biakan murni bias F3 atau F4. Langkah ini perlu kehati-hatian sedikit dan kecermatan. Siapkan alat seperti pinset, api spiritus dan alkohol 70%. Siapkan pula bibit F3 atau F4. Sebelum melakukan, tangan harus bersih sebaiknya dibasuh dengan alkohol. Pakaian juga harus bersih, kalau perlu kenakan pakaian laboratorium. Bila sudah siap, buka bag log dari tutupnya. Ambil pinset celupkan ke dalam alkohol lewatkan diatas api spiritus. Dinginkan beberapa detik. Ambil bibit, masukkan lewat cincin atau paralon, goyangkan agar bibit merata dipermukaan kemudian tutup kembali dengan kapas.
Setelah bag log diisi bibit, inkubasikan dalam ruang khusus dengan suhu antara 22 – 26 derajad celcius sampai miselium tampak berwarna putih dengan kelembaban 90 – 100 derajat celcius.
Jangan lupa, setelah semua langkah diatas, perlu pemeliharaan yang cermat namun cukup mudah. Lakukan penyiraman 2 sampai 3 kali sehari setelah bag log di masukkan ke rumah jamur. Setelah dilakukan penyobekan bag log dengan cutter secara menyilang di bagian depan sebanyak 3 tempat dan di bagian belakang 2 tempat tergantung selera, maka jamur akan tumbuh dari lubang sobekan tersebut.
Di musim hujan penyiraman cukup dilakukan 1 atau 2 kali saja dalam satu hari. Gunakan sprayer sehing siramannyaa bisa merata. Jaga suhu ruangan antara 20 – 22 celcius dengan kelembaban 95 – 100%. Sebaiknya juga gunakan higrometer dan termometer untuk mengetahui kelembaban dan suhu ruangan (bisa dibeli di apotek atau toko bahan kimia).
Umur bag log sekitar 4 – 6 bulan dengan jumlah bag log 3000 buah akan didapatkan 1.920 kg jamur tiram putih. Jumlah ini sudh dikurangi rata-rata tingkat kegagalan. Sehingga rata-rata setiap bag log menghasilkan 0,64 kg.Harga jamur tiram putih saat ini ditingkat petani per kilonya sekitar Rp. 7.000,-. Sehingga dengan modal Rp. 7.211.00 akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 8.141.500,-
Dalam satu bulan bapak beranak 2 ini, bisa memproduksi 5.000 sampai 7.000 log bibit. Selain dibudidayakan sendiri, Tavip juga menjual bibit yang ia buat. Bibitnya sangat khas berbeda dengan buatan yang lain. Ia menjual per log bibit seharga Rp. 1.600,-. Selain dari daerah Sragen sendiri, bibit yang ia hasilkan banyak dibeli petani pengembang jamur tiram dari daerah Purwodadi, Madiun, Blora dan Surabaya.
Meski masih termasuk skala usaha home industri, ia sudah mampu mempekerjakan 4 orang tenaga kerja. Tiap hari para pekerja harus menyemprotkan air ke media bakal bibit tersebut, karena menjaga kelembaban ruangan adalah hal sangat penting.
Sementara menurut Triatmono, Kepala UPTD BIPP Dinas Pertanian Sragen prospek budidaya jamur tiram putih di wilayah Kabupaten Sragen masih sangat bagus, bukan usaha musiman. Meski cuaca di Kabupaten Sragen cenderung agak panas, tetapi dengan perlakuan khusus pembudidayaan jamur tiram di Sragen lebih baik dari daerah lain. “Jamur yang di budidayakan di Kabupaten Sragen bentuknya lebih besar di bandingkan dengan daerah sekitarnya, kami mempunyai kiat-kiat khusus dalam memperlakukan budidaya jamur tiram ini “ kata Triatmono.
Kenapa jamur Tiram di Sragen bentuknya lebih besar, menurut Triatmojo kuncinya pada pembuatan bibit yang diperlakukan dengan kiat-kiat khusus. Triatmojo menambahkan, pangsa pasar jamur tiram masih sangat bagus , “ Kami malah kewalahan memenuhi permintaan jamur tiram ini. Untuk itu kami terus berupaya mengembangkan budidaya jamur tiram ini di Kabupaten Sragen, dengan cara memberikan penyululuhan kepada petani jamur tiram” tutur Triatmono.
Dari segi kesehatan menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, jamur tiram ini layak untuk di konsumsi. Mengandung 9 asam amino yang tidak bisa disintesis dalam tubuh. Jamur ini juga mengandung Polysacharida yang tinggi, sehingga cocok untuk bahan pembuatan cream, bedak atau salep untuk perawatan wajah. Bahkan berdasarkan percobaan pada 121 pasien berjerawat kronis, dengan terapi memberikan jamur tiram setiap hari selama 21 hari, hasilnya 73,5 % kondisinya membaik dan 18,2 % sembuh total. Jamur ini juga sangat bagus di konsumsi karena memiliki kandungan protein 2 x lipat lebih baik dari protein asparagus, kubis dan kentang serta 4 x lipat dari kandungan protein pada wortel dan tomat. Jamur tiram putih juga baik untuk mencegah penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus karena 72% kandungan dari lemak pada jamur adalah asam lemak tak jenuh.
Sumber : http://www.sragen.go.id
READ MORE - Budi Daya Jamur Tiram Putih Dengan Modal Kecil

Apr 9, 2010

Cara Budidaya Jamur Tiram - Krisnaldi, Petani Jamur Tiram dari Pontianak

Cara Budidaya Jamur Tiram - Krisnaldi, Petani Jamur Tiram dari Pontianak

Kelebihan jamur tiram cukup banyak, diantaranya budidayanya dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak memerlukan lahan yang luas. Kemudian selain harga yang relatif mahal, tingkat keuntungan yang dihasilkan relatif tinggi, umur singkat, tanaman ini juga sangat laku di pasaran. “Jamur tiram cukup toleran terhadap lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan,” kata Krisnadi, petani jamur tiram Pontianak.
Diversifikasi produk jamur tiram cukup banyak dapat bentuk segar, kering, kaleng, serta diolah menjadi keripik, pepes, tumis, dan nugget.
Rantai budidaya jamur tiram dimulai dari; serbuk gergaji, pengayakan, pencampuran, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, spawn running, growing, dan pemanenan.
Krisnadi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai budidaya jamur tiram. Untuk media tanamnya dapat berupa serbuk kayu (gergajian), jerami padi, alang-alang, limbah kertas, ampas tebu dan lainnya.
Sebagai campuran dapat ditambahkan bahan-bahan lain berupa bekatul (dedak) dan kapur pertanian dengan perbandingan 80:15: 5. Media dimasukkan dalam plastik polypropilen dan dipadatkan kemudian diseterilisasi selama 10-12 jam. “Sterilisasi bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikrobia lain yang bersifat antagonis dan menjadi penghambat pertumbuhan bagi tanaman induk dalam hal ini jamur tiram,” katanya.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara memanaskan baglog dengan uap panas selama 8-12 jam pada suhu ± 95 °C. Setelah sterilisasi selesai, baglog didinginkan dalam ruangan tertutup selama 24 jam untuk menghindari kontaminasi baglog.
Tahapan selanjutnya adalah proses inokulasi. Inokulasi adalah proses penularan miselium dari bibit (F3) ke media tanam. Proses ini dilakukan dengan steril dan dalam ruang inokulasi. Mengenai bibit, sebelumnya ia mendapatkannya dari Lembang dan Jogja. “Sekarang kami sudah bisa memproduksi sendiri,” katanya.
Proses lanjutan yakni masa inkubasi yakni tahap penumbuhan miselia jamur. Proses ini memerlukan waktu kurang lebih 40 - 60 hari sampai baglog berwarna putih. Krisnadi menegaskan, suhu ruang inkubasi harus dijaga dalam kondisi yang stabil dan rendah cahaya 22- 28 °C dengan kelembaban 70 – 90 %.
Setelah baglog berwarna putih merata, kemudian dipindahkan ke kumbung. Biasanya, umur baglog yang dipindahkan telah mencapai 40 hari.
Proses penumbuhan tubuh buah diawali dengan membuka ujung baglog untuk memberikan 02 pada tubuh buah jamur. Biasanya 7-14 hari kemudian, tubuh buah akan tumbuh.
Setelah 7-30 hari sejak penyobekan baglog akan tumbuh tubuh buah yang terus mernbesar hingga mencapai pertumbuhan optimal yang siap dipanen (3-4 hari).
Kata Krisnadi, selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban udara harus dijaga dengan baik pada kisaran suhu 20- 22 °C dan kelembaban 95 - 100 %, dengan cara pengembunan kumbung.
“Panen pertama 30 hari sejak penyobekan baglog, sedangkan pemanenan berikutnya setiap 10-14 hari. Tubuh buah yang sudah siap panen harus segara panen agar kualitas jamur baik,” katanya.
Bagaimana penanganan pascapanen? Kata dia, segera bersihkan jamur dari kotoran yang menempel pada tubuh buah jamur. Hal itu bertujuan untuk menjaga daya tahan produk. “Jamur tiram segera disimpan dalam freezer agar tahan dalam waktu 1 sampai dua minggu,” katanya. Sementara untuk produk jamur kering, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari selama kurang lebih 5 hari.

Paket Pelatihan

Krisnadi dan kelompoknya memang berkeinginan kuat mempopulerkan jamur tiram di Pontianak. Dia berharap, jamur tiram bisa menjadi ikon selanjutnya untuk Kota Pontianak.
Dalam rangka pengembangan budidaya jamur tiram di Kota Khatulisiwa, Kelompok Pemuda Mushroom Prima yang digelutinya ini menerima peserta pelatihan budidaya.
Peserta pelatihan terdiri dari minimal lima orang dengan paket pelatihan selama empat hari

Sumber : http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Liputankhusus&id=158949
READ MORE - Cara Budidaya Jamur Tiram - Krisnaldi, Petani Jamur Tiram dari Pontianak

Cara Budidaya Jamur Tiram - Krisnaldi, Petani Jamur Tiram dari Pontianak

Cara Budidaya Jamur Tiram - Krisnaldi, Petani Jamur Tiram dari Pontianak

Kelebihan jamur tiram cukup banyak, diantaranya budidayanya dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak memerlukan lahan yang luas. Kemudian selain harga yang relatif mahal, tingkat keuntungan yang dihasilkan relatif tinggi, umur singkat, tanaman ini juga sangat laku di pasaran. “Jamur tiram cukup toleran terhadap lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan,” kata Krisnadi, petani jamur tiram Pontianak.
Diversifikasi produk jamur tiram cukup banyak dapat bentuk segar, kering, kaleng, serta diolah menjadi keripik, pepes, tumis, dan nugget.
Rantai budidaya jamur tiram dimulai dari; serbuk gergaji, pengayakan, pencampuran, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, spawn running, growing, dan pemanenan.
Krisnadi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai budidaya jamur tiram. Untuk media tanamnya dapat berupa serbuk kayu (gergajian), jerami padi, alang-alang, limbah kertas, ampas tebu dan lainnya.
Sebagai campuran dapat ditambahkan bahan-bahan lain berupa bekatul (dedak) dan kapur pertanian dengan perbandingan 80:15: 5. Media dimasukkan dalam plastik polypropilen dan dipadatkan kemudian diseterilisasi selama 10-12 jam. “Sterilisasi bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikrobia lain yang bersifat antagonis dan menjadi penghambat pertumbuhan bagi tanaman induk dalam hal ini jamur tiram,” katanya.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara memanaskan baglog dengan uap panas selama 8-12 jam pada suhu ± 95 °C. Setelah sterilisasi selesai, baglog didinginkan dalam ruangan tertutup selama 24 jam untuk menghindari kontaminasi baglog.
Tahapan selanjutnya adalah proses inokulasi. Inokulasi adalah proses penularan miselium dari bibit (F3) ke media tanam. Proses ini dilakukan dengan steril dan dalam ruang inokulasi. Mengenai bibit, sebelumnya ia mendapatkannya dari Lembang dan Jogja. “Sekarang kami sudah bisa memproduksi sendiri,” katanya.
Proses lanjutan yakni masa inkubasi yakni tahap penumbuhan miselia jamur. Proses ini memerlukan waktu kurang lebih 40 - 60 hari sampai baglog berwarna putih. Krisnadi menegaskan, suhu ruang inkubasi harus dijaga dalam kondisi yang stabil dan rendah cahaya 22- 28 °C dengan kelembaban 70 – 90 %.
Setelah baglog berwarna putih merata, kemudian dipindahkan ke kumbung. Biasanya, umur baglog yang dipindahkan telah mencapai 40 hari.
Proses penumbuhan tubuh buah diawali dengan membuka ujung baglog untuk memberikan 02 pada tubuh buah jamur. Biasanya 7-14 hari kemudian, tubuh buah akan tumbuh.
Setelah 7-30 hari sejak penyobekan baglog akan tumbuh tubuh buah yang terus mernbesar hingga mencapai pertumbuhan optimal yang siap dipanen (3-4 hari).
Kata Krisnadi, selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban udara harus dijaga dengan baik pada kisaran suhu 20- 22 °C dan kelembaban 95 - 100 %, dengan cara pengembunan kumbung.
“Panen pertama 30 hari sejak penyobekan baglog, sedangkan pemanenan berikutnya setiap 10-14 hari. Tubuh buah yang sudah siap panen harus segara panen agar kualitas jamur baik,” katanya.
Bagaimana penanganan pascapanen? Kata dia, segera bersihkan jamur dari kotoran yang menempel pada tubuh buah jamur. Hal itu bertujuan untuk menjaga daya tahan produk. “Jamur tiram segera disimpan dalam freezer agar tahan dalam waktu 1 sampai dua minggu,” katanya. Sementara untuk produk jamur kering, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari selama kurang lebih 5 hari.

Paket Pelatihan

Krisnadi dan kelompoknya memang berkeinginan kuat mempopulerkan jamur tiram di Pontianak. Dia berharap, jamur tiram bisa menjadi ikon selanjutnya untuk Kota Pontianak.
Dalam rangka pengembangan budidaya jamur tiram di Kota Khatulisiwa, Kelompok Pemuda Mushroom Prima yang digelutinya ini menerima peserta pelatihan budidaya.
Peserta pelatihan terdiri dari minimal lima orang dengan paket pelatihan selama empat hari

Sumber : http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Liputankhusus&id=158949
READ MORE - Cara Budidaya Jamur Tiram - Krisnaldi, Petani Jamur Tiram dari Pontianak

Apr 8, 2010

PANDUAN PRAKTIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM

CARA PRAKTIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM


Ada teknologi yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram Pleurotus spp, yakni tahapan membuat media bibit induk (spawn) dan tahanan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahanan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan. Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik.
Langkah kedua, bahan baku dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau panci. Langkah ketiga, bahan baku tersebut ditiriskan dengan ayakan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sangat sedikit) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % dengan penambahan air sedikit dan pH 7.
Langkah keempat, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% media bibit, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil. Langkah kelima, sterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C.
Langkah keenam, lakukan inokulasi dengan laminar flow satu hari kemudian. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit). Langkah ketujuh, inkubasi (pertumbuhan miselium 15-21 hari) pada ruang inkubasi/inkubator, suhu 22-28 derajat C.
Langkah kedelapan, botol atau baglog isi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/mengeras. Kesembilan, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata.
Langkah terakhir, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit induk/bibit sehat perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit ini disimpan dalam lemari pendingin selama 1 tahun, bila tidak akan segera digunakan.
Tahap selanjutnya adalah memproduksi jamur tiram (Pleurotus spp). Dalam tahapan ini juga ada 10 langkah. Pertama, siapkan serbuk kayu gergajian albasia. Rendam selama 0-12 jam (bergantung pada spesies/strain serbuk kayu yang digunakan). Langkah kedua, tiriskan sampai tidak ada air, pada hari itu juga dengan mengunakan saringan kawat atau ayakan kawat.
Langkah ketiga, membuat subtrat/media tumbuh, pada hari itu juga. Tambahkan 5-15 % bekatul atau polar (bergantung pada spesies/strain yang digunakan), 2% kapur (CaCO3), 2% gypsum (CaSO4) dan air bersih, diaduk merata, kadar air substrat 65%, pH 7.
Langkah keempat, distribusikan kedalam baglog polipropilen pada ahri itu juga. Padatkan dalam wadah tersebut, beri lubang bagian tengah, dipasang mulut cincin pralon, kemudian ditutup dengan kapas/kertas minyak. Langkah kelima, sterilisasi/pasteurisasi, satu hari kemudian. Simpan dalam kamar uap atau kukus dalam drum dengan suhu media di dalam baglog 95-120 derajat C selama 1-3 kali 8 jam bergantung pada jumlah substrat yang akan di pasteurisasi. Langkah keenam, inokulasi substrat dengan spawn di ruang inokulasi. Setelahsuhu baglog substrat turun sampai suhu kamar, inokulasikan bibit pada substrat dalam laminar flow. Bibit 10-15gr/kg substrat.
Langkah ketujuh, inkubasi baglog substrat (pertumbuhan miselium 15-30 hari). Rumah jamur/kubung/ruang inkubasi dijaga tetap kering dan bersih, suhu 22-28 derajat C tanpa cahaya. Langkah kedelapan, baglog substrat dibuka cincin dibuka (7-15 hari kemudian). Cara membuka berbeda-beda, tergantung jenis jamur kayu yang digunakan.

Langkah kesembilan, baglog disusun di rak dalam rumah jamur (pertumbuhan jamur 10-15 hari kemudian, tumbuh pin head/bakal tumbuh buah). Bakal tumbuh buah tersebut disiram air bersih agar jamur tumbuh. Untuk jamur tiram, yang disiram rumah jamurnya. Untuk jamur kuping penyiraman langsung pada substrat sampai basah kuyup. Suhu rumah jamur 16-22 derajat C RH : 80-90 %.

Langkah terakhir panen jamur tiram/kuping. Panen kurang dari 9 kali dalam waktu kurang dari 1,5 bulan tergantung cara pemeliharaan/penyiraman jamur dan kebersihan kubung. Atau sisa panen 2-5 kali seminggu.

Faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya jamur tiram ini adalah masalah higienis, aplikasi bibit unggul, teknlogi produksi bibit (kultur murni, bibit induk, bibit sebar), teknologi produksi media tumbuh/substrat dan pemeliharaan serta cara panen jamur tiram.
www.trubus.com
READ MORE - PANDUAN PRAKTIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Mar 17, 2010

Efek Halusinogen dari Jamur Ajaib (MAGIC MUSHROOM)

Efek Halusinogen dari Jamur Ajaib (MAGIC MUSHROOM)


MAGIC MUSHROOM, dari namanya jamur ajaib mungkin Anda bertanya, apa sih khasiat jamur ajaib ini sampai dibilang ajaib? mungkin ada jenis penyakit yang bisa disembuhkan atau mungkin ada kegunaan lain selain sebagai makanan konsumsi?
Jamur ini memang beda dari jenis jamur lainnya. diberi sebutan MAGIC MUSHROOM atau jamur ajaib karena jamur ini bisa memberi efek halusinogen jika anda mengkonsumsinya.
Seperti apa efek halusinogen itu? Apakah jamur ini berbahaya?
Apakah ada racun didalamnya? dan lain sebagainya

Jamur ajaib (magic mushroom) ini bisa diperoleh dari kotoran sapi, kerbau atau banteng. Tapi Anda pun bisa membudidayakannya didalam rumah/ruangan tanpa kotoran yang akan membuat Anda merasa jijik karena jamur ini bisa tumbuh dimana-mana
  • Apakah magic mushroom legal di Indonesia?

Ini pertanyaan yang agak susah dijawab karena hukum yang ada di Indonesia kurang jelas mengenai magic mushroom ini.
Yang jelas, zat psilocybin (yang diproses menjadi psilocin jika dicerna didalam tubuh) itu yang illegal, bukan jamur-jamurnya.
Jadi jangan heran kalo ada yang bilang legal... hhohoho
  • Tapi berbahaya gak sih? Bikin ketagihan gak tuh?

Dari sekian banyaknya website mengenai magic mushroom di internet, magic mushroom itu gak berbahaya sama sekali buat tubuh kita, asal kita gak makan jamur beracun. Makanya, kalo mau metik jamur gitu, jangan langsung dimakan, diidentifikasi dulu, kalo perlu tanya tanya aja sama orang yang sudah berpengalaman 'hunting' mushroom. Kalo ketagihan sih enggak, gak ada sama sekali zat adiktifnya kok.
  • Efeknya kayak gimana????

Nah ini dia nih yang susah banget untuk dijelasin...
Efek halusinogennya tuh tergantung pada mood lo pas lo lagi 'giting'.
Kalo lo lagi seneng, ya lo ngerasain euforia, lo juga bisa ngeliat hal-hal yang otak lo mau liat, trus tubuh lo tuh bakal terasa enteng banget...
Pokoknya secara kesuluruhan positif.
Tapi kalo lo makan jamur ini pas lo lagi bete, ngamuk, marah-marah, atau punya banyak pikiran, lo bakal ngerasain yang namanya bad-trip.
Kalo lo bad trip, lo bisa nangis berjam-jam, bisa teriak-teriak, bisa panikan sendiri, pokoknya semua feeling negatif tuh keluar deh.
Efek giting dari magic mushroom juga ngebuat lo mikir banyak, sedikit sedikit ber-filosofi laah... tapi jangan dibawa ribet,
kalo lo mikir mulu akhir akhirnya lo bakal stress dan kalo lo udah stress, bad trip deh!
Jadi waspadalah !!
sumber :
  • http://www.magic-mushrooms.net/
  • http://www.shroomery.org/
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Psilocybin_mushrooms
  • http://dewa191185.blogspot.com
READ MORE - Efek Halusinogen dari Jamur Ajaib (MAGIC MUSHROOM)

Mar 14, 2010

Budidaya Jamur Tiram

Budidaya Jamur Tiram

Jamur merupakan tanaman yang berinti, berspora, tidak berklorofil berupa sel atau benang-benang bercabang. Karena tidak berklorofil, kehidupan jamur mengambil makanan yang sudah dibuat oleh organisme lain yang telah mati
Jamur tiram bila kita budidayakan akan mendapat manfaat berganda. Selain rasanya lezat mengandung gizi yang cukup besar manfaatnya bagi kesehatan manusia sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi dalam menu sehari- hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar jamur di Departemen Sains Kementrian Industri Thailand bebarapa zat yang terkandung dalam jamur tiram atau Oyster mushroom adalah protein 5,94 %; karbohidrat 50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17 % dan abu 1,14 %. Selain kandungan ini, Setiap 100 gr jamur tiram segar ternyata juga mengandung 45,65 kalori; 8,9 mg kalsium: 1,9 mg besi; 17,0 mg fosfor. 0,15 mg Vitamin B1; 0,75 mg vitamin B2 dan 12,40 ing vitamin C. Dari hasil penelitian kedokteran secara klinis, para ilmuwan mengemukakan bahwa kandungan senyawa kimia khas jamur tiram berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta kekurangan gizi.
Secara social budaya, jamur tiram, merupakan bahan pangan bergizi, berkhasiat obat yang lebih murah dibandingkon obat modern. Secare ekonomis merupakan komoditas yang tinggi harganya dan dapat meningkatkan pendapatan petani serta dapat dijadikan makanan olahan untuk konsumsi dalam upaya peningkatan gizi masyarakat

II. SYARAT TUMBUH

Tempat tumbuh Jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organic yang ada didalamnya. Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun sempit atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan misellium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan ticlak busuk dan tidak ditumbuhi jornur jenis lain.
Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahan-bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur ( Calsium carbonat ) sebagai sumber mineral dan pengatur pH meter
Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 - 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik Penambahan air yang tidak bersih dapat menyebabkan media terkontaminasi dengan mikroorganisme

Tingkat keasamon ( pH)

Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 - 7 dengan menggunakan kapur ( Calsium carbonat )

Suhu udara

Pada budidaya jamur tiran suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 28 OC dengan kelembabon 60 - 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 22 OC.

Cahaya

Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam, keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buch tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran ? 60 - 70 %

III. TAHAPAN DALAM KEGIATAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

1. Persiapan Media Tanam

Sebelum dilakukan penanaman ( inokulasi ) bibit kedalam media tanam, perlu dilakukan persiapan-persiapan antara lain:
Menyiapkan bahan dan alat yang digunakan.
Mencampur serbuk kayu dengan bahan-bahan lain seperti bekatul, tepung jagung dan kapur sampai merata ( homogen ) kemudian diayak.
Menambah air hingga kandungan air dalam media menjadi 60?-65 % lalu tentukan pH-nya dengan kertas lakmus.
Memasukkan media tanam kedalam kantung plastik polypropilene dan memadatkannya lalu bagian atas kantung plastik diberi cincin paralon kemudian dilubangi 1/3 bagian dengan kayu dan ditutup dengan kertas lilin serta diikat dengan karet pentil.
Melakukan sterilisasi pada suhu 95 OC selama 7 - 8 jam
Mendinginkan media tanam selama 8 - 12 jam dalam ruangan inokulasi

2. Penanaman ( Inokulasi

Inokulasi dilakukan setelah media tanam dingin dengan suhu antara 22 - 28 OC.
Menyiapkon alat dan bahan yang diperlukan dalam proses penanaman ( inokulasi ).
Sterilisasi semua alat dan bahan yang akan digunakan
Membuka penutup/ kertas lilin dan memasukkan bibit dari dalam botol kedalam media tanam dengan menggunakan stik inokulasi.
Menutup kembali penutup/kertas lilin dan mengikat dengan karet pentil.
Memindahkan media tanam yang telah ditanami bibit tersebut kedalam ruangan inkubasi sampai tumbuh misellium jamur, Lamanya penumbuhan misellium jamur antara 45 - 60 hari.
Setelah misellium memenuhi kantong plastik dipindahkan ke ruang produksi dengan membuka tutup kontong plastik dan menyemprot air secara teratur

3. Panen

Setelah 10 - 15 hari kemudian dapat dipanen untuk pertama kali, panen berikutnya setiap dua hari sekali secara teratur selama 6 bulan.
Oleh : Dinas Pertanian Jawa Timur
Sumber : http://www.diperta-jatim.go.id/

READ MORE - Budidaya Jamur Tiram

Pak Mahrup Perintis Budidaya Jamur Tiram di Lombok

Pak Mahrup Perintis Budidaya Jamur Tiram di Lombok

“Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya,” kata Ni Nyoman Widarmini, S.K.M.
Geliat usaha budidaya jamur tiram di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Lombok masih masih tergolong rendah. Padahal di Jawa dan Bali, bisnis ini sudah cukup lama dikenal. Di Lombok, tidak banyak bahkan bisa dikatakan hanya satu dua saja yang menggeluti usaha ini. Salah satunya adalah usaha yang dirintis Ir. M. Mahrup Kaseh sejak tahun 1989. Hingga kini usaha itu masih bertahan dan terus melakukan inovasi pada teknik budidaya dan pengembangan pemasarannya sehingga menjadi agribisnis yang utuh dan mudah dilaksanakan sebagai teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.
Pengembangan teknik budidaya ini dipermudah dengan menggunakan bibit sebar dedan dengan media yang mudah dan murah. Alat pres dan alat sterilisasi direkayasa sendiri sehingga mudah dilaksanakan dengan hasil yang baik. “Teknik dan alat yang digunakan merupakan hasil pencarian terus menerus,” ungkap pensiunan PNS ini yang mengaku, belajar membudidayakan jamur lewat buku, potongan-potongan koran, majalah dan informasi yang ia kumpulkan.
Di Mataram, menurut, Ir. Parman, Ph.D, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mataram, yang selama ini peduli dalam penelitian dan permasalahan jamur, animo masyarakat untuk membudidayakan jamur ini terbilang kurang. “Padahal untuk komoditi ekspor usaha ini sangat menjanjikan,” katanya.
Berbeda dengan jamur merang yang perlu ruangan tertutup dan hangat serta kedap udara, jamur tiram tidak memerlukan suhu tertentu atau ruang kedap udara. “Pada suhu biasa, jamur tiram bisa tumbuh dengan baik,” lanjutnya. Jamur tiram yang umum dikembangkan untuk budidaya biasanya berwarna putih, sementara warna coklat dan merah muda tidak. Menyoal rasa dari jamur tersebut, ungkap Parman, tergantung medianya. Sementara itu, untuk menghasilkan jamur sesuai warnanya tergantung pada warna asal bibit yang ditanam.-niek

Cermati Ciri-ciri Jamur Beracun

SECARA umum, jamur termasuk dalam jenis sayuran yang mengandung sedikit sekali kalori dan hidrat arang, seperti halnya kangkung, ketimun, kool, kembang kool, tauge, sawi. “Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya,” kata Ni Nyoman Widarmini, S.K.M. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum, Mataram.
“Tentunya, jamur yang boleh dimakan atau tidak beracun,” ungkap Ir. Parman, Ph.D. Menurutnya, jamur tiram, yang berkembang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur tiram putih, coklat dan merah muda. Jamur ini, tumbuh di kayu yang mengalami pelapukan atau yang sudah mati, tumbuh pula di ilalang, sampah tebu dan sampah sagu.
Jamur tersebut tidak beracun dan boleh dimakan. Jamur yang tergolong beracun dan tidak dapat dikonsumsi, lanjutnya, jika jamur tiram misalnya, tumbuh di kayu yang masih hidup, tumbuh di bangkai, kotoran ayam atau binatang ternak. “Jika termakan, jamur jenis ini akan menyebabkan keracunan dan dalam konsentrasi racun tinggi dan bisa menyebabkan kematian,” ujarnya.
Ciri-ciri jamur beracun antara lain, umumnya tangkai payungnya bergelang atau terdapat lingkaran menyerupai cincin. Tapi, katanya, tidak semua yang bergelang merupakan jamur beracun. Selain itu, aroma jamur akan terasa berbau sangat tajam, jika dipotong terdapat cairan kekuning-kuningan dan berlendir. “Jika terdapat tanda-tanda tersebut, sebaiknya jamur ini jangan dikonsumsi,” saran Parman. Jamur ini biasanya tumbuh liar, sementara jamur yang sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi tentunya jamur yang tidak beracun, jadi tidak perlu khawatir membeli jamur apalagi yang sudah dalam kemasan.
Selain dikonsumsi dalam keadaan segar, jamur juga kerap dikonsumsi setelah mengalami pengeringan untuk pengawetan. Menurut Nyoman, antara jamur segar dan jamur kering terdapat perbedaan kalori yang dikandungnya. Jamur segar dalam 100 gram di dalamnya terdapat 15 kalori, protein 3,8 gram, lemak 0,6 gr, karbohidrat 0,9 gr, kalsium 3 mg, zat besi 1,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan vitamin C 5 mg.
Sedangkan pada 100 gram jamur kering terdapat 128 kalori, protein 16 gram, lemak 0,9 gr, karbohidrat 64,6 mg, kalsium 51 mg, zat besi 6,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan tidak mengandung vitamin C. “Jamur segar maupun jamur kering keduanya tidak mengandung vitamin A,” ujar Nyoman yang sudah 15 tahun bekerja di Instalasi Gizi ini.

Belum Mampu Memenuhi Permintaan

BUDIDAYA jamur tiram dengan memanfaatkan limbah gergajian kayu yang dilakukan Mahrup, bisa dijadikan alternatif usaha yang mempunyai prospek sangat baik. Selain memakai bahan yang mudah dan murah, Mahrup juga membuat sendiri bibit induk dan bibit sebar jamur tiram ini, sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bibit. Dalam waktu dua setengah bulan bibit tersebut sudah dapat dipakai, lebih cepat ketimbang proses yang selama ini dikenal yang memakan waktu sekitar empat bulan. Membuat bibit induk dan bibit sebar jamur tiram dilakukan dengan menyediakan media antara lain dedak halus dan tepung jagung yang dicampur dan ditambahkan air lalu dibuat adonan atau pasta (perbandingan 2:1). Media tanam dipres dengan alat pres yang direkayasa sendiri.
Proses perawatan hingga panen dalam budidaya jamur tiram ini juga cenderung gampang. Setelah polybag-polybag dingin, bibit jamur tiram dimasukkan satu sendok di bagian atasnya dan disimpan dalam ruang inkubasi. Jumlah bibit yang dimasukkan tidak akan berpengaruh pada berat jamur yang dihasilkan melainkan proses keluarnya jamur bisa lebih cepat, kata Mahrup. Lama kelamaan, polybag-polybag tersebut nantinya akan kelihatan memutih di seluruh permukaannya. “Jika sudah putih semua, polybag tersebut dapat dipindahkan ke ruang produksi,” ujar Mahrup.
Dalam ruang produksi, perawatan sederhana dimulai dengan membersihkan ruangan tiap pagi serta menyemprot polybag dengan air untuk tetap menjaga kelembaban ruangan serta merangsang tumbuhnya jamur tiram. Agar proses tumbuhnya jamur cepat, maka kapas penutup mulut polybag dibuka beberapa sebelum jamur keluar. Dalam waktu 15 hari dalam ruang produksi, jamur akan terlihat bermunculan, keluar dari mulut-mulut polybag. Tidak lama setelah itu, selang tiga hari kemudian jamur tiram pun mekar dan panen pertama pun bisa dimulai.
Selain menjual jamur segar, Mahrup juga menyediakan polybag-polybag berisi jamur tiram berumur sehari untuk dijual. “Artinya, kami menjual jamur yang sudah keluar dan kemungkinan sudah tidak lagi terkontaminasi,” katanya. Untuk pemasaran polybag jamur siap panen ini, Mahrup memakai sistem mitra, mereka yang sengaja membeli polybag-polybag jamur siap panen tersebut. Sampai saat ini, ia memiliki setidaknya enam mitra yang rutin mengambil masing-masing 200 polybag tiap bulannya. Di samping itu, pemasaran dilakukan di pasar-pasar tradisional sekitar Mataram.
Permintaan akan jamur siap panen dalam polybag tersebut, menurutnya, sangat tinggi, hanya saja ia belum mampu menyediakannya. Tahun 2005 ini ia telah membuat bibit lebih banyak dari biasanya, serta sedang melakukan proses percobaan pada kemungkinan bisa menambah berat jamur tiram saat dipanen setidaknya dua ons. Di rumahnya, tempat budidaya jamur tiram sampai saat ini, Mahrup telah banyak memberikan pelatihan-pelatihan pada mahasiswa tentang budidaya jamur tiram juga sebagai tempat PKL, sumber bahan penelitian dan konsultasi teknologi serta menjadi tempat tujuan agrowisata yang sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di NTB.
Sumber : http://www.cybertokoh.com/news/jamur.htm
Edisi 325 / Minggu / 1 3 Maret 2005
READ MORE - Pak Mahrup Perintis Budidaya Jamur Tiram di Lombok

Mar 12, 2010

Budidaya Jamur Tiram

Budidaya Jamur Tiram

Jamur merupakan tanaman yang berinti, berspora, tidak berklorofil berupa sel atau benang-benang bercabang. Karena tidak berklorofil, kehidupan jamur mengambil makanan yang sudah dibuat oleh organisme lain yang telah mati
Jamur tiram bila kita budidayakan akan mendapat manfaat berganda. Selain rasanya lezat mengandung gizi yang cukup besar manfaatnya bagi kesehatan manusia sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi dalam menu sehari- hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar jamur di Departemen Sains Kementrian Industri Thailand bebarapa zat yang terkandung dalam jamur tiram atau Oyster mushroom adalah protein 5,94 %; karbohidrat 50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17 % dan abu 1,14 %. Selain kandungan ini, Setiap 100 gr jamur tiram segar ternyata juga mengandung 45,65 kalori; 8,9 mg kalsium: 1,9 mg besi; 17,0 mg fosfor. 0,15 mg Vitamin B1; 0,75 mg vitamin B2 dan 12,40 ing vitamin C. Dari hasil penelitian kedokteran secara klinis, para ilmuwan mengemukakan bahwa kandungan senyawa kimia khas jamur tiram berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta kekurangan gizi.
Secara social budaya, jamur tiram, merupakan bahan pangan bergizi, berkhasiat obat yang lebih murah dibandingkon obat modern. Secare ekonomis merupakan komoditas yang tinggi harganya dan dapat meningkatkan pendapatan petani serta dapat dijadikan makanan olahan untuk konsumsi dalam upaya peningkatan gizi masyarakat

II. SYARAT TUMBUH

Tempat tumbuh Jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organic yang ada didalamnya. Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun sempit atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan misellium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan ticlak busuk dan tidak ditumbuhi jornur jenis lain.
Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahan-bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur ( Calsium carbonat ) sebagai sumber mineral dan pengatur pH meter
Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 - 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik Penambahan air yang tidak bersih dapat menyebabkan media terkontaminasi dengan mikroorganisme

Tingkat keasamon ( pH)

Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 - 7 dengan menggunakan kapur ( Calsium carbonat )

Suhu udara

Pada budidaya jamur tiran suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 28 OC dengan kelembabon 60 - 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 22 OC.

Cahaya

Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam, keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buch tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran ? 60 - 70 %

III. TAHAPAN DALAM KEGIATAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

1. Persiapan Media Tanam

Sebelum dilakukan penanaman ( inokulasi ) bibit kedalam media tanam, perlu dilakukan persiapan-persiapan antara lain:
Menyiapkan bahan dan alat yang digunakan.
Mencampur serbuk kayu dengan bahan-bahan lain seperti bekatul, tepung jagung dan kapur sampai merata ( homogen ) kemudian diayak.
Menambah air hingga kandungan air dalam media menjadi 60?-65 % lalu tentukan pH-nya dengan kertas lakmus.
Memasukkan media tanam kedalam kantung plastik polypropilene dan memadatkannya lalu bagian atas kantung plastik diberi cincin paralon kemudian dilubangi 1/3 bagian dengan kayu dan ditutup dengan kertas lilin serta diikat dengan karet pentil.
Melakukan sterilisasi pada suhu 95 OC selama 7 - 8 jam
Mendinginkan media tanam selama 8 - 12 jam dalam ruangan inokulasi

2. Penanaman ( Inokulasi

Inokulasi dilakukan setelah media tanam dingin dengan suhu antara 22 - 28 OC.
Menyiapkon alat dan bahan yang diperlukan dalam proses penanaman ( inokulasi ).
Sterilisasi semua alat dan bahan yang akan digunakan
Membuka penutup/ kertas lilin dan memasukkan bibit dari dalam botol kedalam media tanam dengan menggunakan stik inokulasi.
Menutup kembali penutup/kertas lilin dan mengikat dengan karet pentil.
Memindahkan media tanam yang telah ditanami bibit tersebut kedalam ruangan inkubasi sampai tumbuh misellium jamur, Lamanya penumbuhan misellium jamur antara 45 - 60 hari.
Setelah misellium memenuhi kantong plastik dipindahkan ke ruang produksi dengan membuka tutup kontong plastik dan menyemprot air secara teratur

3. Panen

Setelah 10 - 15 hari kemudian dapat dipanen untuk pertama kali, panen berikutnya setiap dua hari sekali secara teratur selama 6 bulan.
Oleh : Dinas Pertanian Jawa Timur
Sumber : http://www.diperta-jatim.go.id/

READ MORE - Budidaya Jamur Tiram

Budidaya Jamur Tiram Merah

Budidaya Jamur Tiram Merah

Penurunan jumlah oksigen dalam nutrien dapat meningkatkan produksi miselium, akan tetapi jika oksigen tidak ada maka jamur tidak tumbuh.
Jamur Tiram merah (Pleurotus fisbelatus) mampu tumbuh secara saprofit pada berbagai batang kayu. Ciri-ciri jamur ini adalah berbadan buah dengan tudung (pileus) berwarna merah, merah muda, merah pucat, sampai kekuningan. Lebar tudung 4 - 5 cm. Bentuk tudung dapat bermacam-macam sesuai letak tumbuhnya. Tudung dapat membuka seperti payung dengan bentuk datar, cekung, cembung, atau bergelombang. Letak tangkai di tengah atau asimetri. Badan buah dari hasil penanaman biasanya lebih besar daripada yang tumbub secara alami. Berat badan buah tunggal mencapai 300 - 400 gram. Lamela berwarna merah muda atau keputihan. Perlekatan antara tuding dan tangkai menyatu. Tangkai berwarna keputihan, dengan panjang 3 - 10 cm. Spora hialin, tumpukan spora berwarna putih atau kekuningan, dengan ukuran spora 8 - 11 mm X 4 - 5 mm.
Miselium dan badan buah dapat berkembang pada bahan yang mengandung lignoselulosa dengan nisbah C/N 50 sampai 500. Media yang sangat baik untuk pertumbuhan adalah MEA (Malt Extract Agar) yang tersusun atas malt extract 5 g/l, tepung kedelai 10 g/l, pepton 1 g/l, KH2PO4 0,5 g/l, MgSO4.7H2O 0,5 g/l larutan FeCl3 1% sebanyak 1ml/l, yeast extract 0,1 g/l, agar 15 g/l. Pertumbuhan miselium dapat dipercepat dengan penambahan bahan pengabsorbsi, seperti arang aktif.
Metode yang paling mudah untuk menyiapkan substrat adalah mensterilkan bahan di dalam kantong plastik, akan tetapi sulit dilaksanakan dalam skala besar untuk tujuan komersial. Menurut metode Till, substrat dipanaskan pada suhu 1000C atau 800C, kemudian didinginkan dan ditanami bibit jamur. Metode ini dapat dikembangkan untuk menghasilkan substrat secara mekanis dan kontinyu. Dengan pemansan, kualitas substrat meningkat, dan lebih banyak bahan terlarut yang dibebaskan, seperti senyawa fenolik dan sakarida.
Setelah substrat disterilkan, didinginkan sampai suhu 250C, kemudian dicampur bibit jamur sebanyak 2%(b/b), diinkubasi pada suhu 24 - 280C pada keadaan gelap. Setelah 3 sampai 4 minggu, miselium sudah memenuhi seluruh media, kemudian dipelihara untuk pembentukan badan buah.
Berbagai faktor lingkungan berpengaruh terhadap pertumbuhan miselium, baik faktor fisik, kimia,maupun biologis. Faktor tersebut antara lain suhu, kelembapan, kandungan air, ukuran partikel, pH, oksigen, CO2, viabilitas kultur, dan kontaminan.
Pada suhu kurang dari 150C kecepatan pertumbuhan miseliumnya linear. Pada suhu 15 - 200C menunjukkan fase pertumbuhan yang dipercepat, kemudian menurun pada suhu 20 - 300C. Suhu optimum untuk pertumbuhan miselium adalah 250C. Kandungan air substrat yang sesuai untuk pertumbuhan miselium adalah 70 - 75%. Ukuran partikel substrat untuk jerami adalah 2 - 3 cm. Kelembapan relatifnya minimum 75%. Kelembapan udara baik untuk pertumbuhan jamur tersebut adalah 85 - 95%.
Miselium dapat tumbuh pada pH 4 - 7. Akan tetapi pada pH 4 pertumbuhannya terhambat. Ph optimumnya adalah 5,5 - 6,5. pH yang tinggi juga menyebabkan penghambatan pertumbuhan. Selama pertumbuhan akan terjadi perubahan pH pada substrat.
Oksigen yang diperlukan sangat rendah dibandingkan jamur yang lain. Penurunan jumlah oksigen dalam nutrien dapat meningkatkan produksi miselium, akan tetapi jika oksigen tidak ada maka jamur tidak tumbuh. Selain oksigen, pertumbuhan juga dipengaruhi oleh CO2, pada konsentrasi CO2 yang tinggi (22 - 28%) akan menstimulasi pertumbuhan sedang jika di atas 37,5% akan menurunkan kemampuan tumbuhnya.
Pembentukan badan buah ditentukan oleh banyak faktor. Semua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan miselium juga berpengaruh pada pembentukan badan buah. Faktor tersebut meliputi faktor genetik, substrat, dan ekologi. Faktor ekologi menjadi kendali terutma iklim, iklim mikro, dan keadaan udara.
Faktor substrat meliputi sifat kimia, fisik, dan biokimia substrat. Sifat kimia substrat meliputi komponen dan kualitas kompleks lignoselulosa, kandungan dan bentuk nitrogen, nilai pH dan cara penyiapan substrat. Sifat fisik meliputi kandungan air, sirkulasi udara, volume dan berat, serta gradien suhu. Sifat biokimia meliputi tingkat dekomposisi substrat, aadanya nutrien, dan sumber-sumber untuk pembentukan badan buah. Faktor ekologi yang menentukan adalah suhu substrat dan udara, komposisi udara pada substrat dan lingkungan, kelembapan substrat dan lingkungan serta faktor cahaya (intensitas, komposisi, dan waktu).
Pada keadaan normal, badan buah mempunyai tangkai yang sangat pendek. Jamur berkembang terutama sebagai pileus (tudung), seperti bentuk normal yang terdapat pada habitatnya di alam. Dengan berkurangnya pecahayaan, maka tangkai tumbuh lebih panjang, dan tudung yang berkembang berkurang ukurannya. Pada pencahayaan yang sangat kurang, tangkai sangat panjang dan tudung sangat kecil. Pencahayaan yang diperlukan adalah minimal menit per hari. badan buah terbentuk normal dengan penyinaran 12 jam per hari.
Konversi bahan-bahan lignoselulosa menjadi badan buah jamur yang dapat dimakan, merupakan aspek yang sangat penting dalam penanaman jamur. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan menggunakan nilai biological efficiency (BE). Nilai BE didapatkan dari hasil perbandingan antara berat segar badan buah dengan berat kering kompos pada saat penanaman.
Sumber : http://permimalang.wordpress.com
READ MORE - Budidaya Jamur Tiram Merah

Mar 9, 2010

Budidaya Jamur Tiram dengan Media Murah

Budidaya Jamur Tiram lebih Mudah dengan Media Murah


Agar proses tumbuhnya jamur cepat, maka kapas penutup mulut polybag dibuka beberapa sebelum jamur keluar. Dalam waktu 15 hari dalam ruang produksi, jamur akan terlihat bermunculan, keluar dari mulut-mulut polybag. Tidak lama setelah itu, selang tiga hari kemudian jamur tiram pun mekar dan panen pertama pun bisa dimulai.


Budidaya jamur tiram khususnya di Nusa Tenggara Barat masih tergolong kecil peminatnya. Padahal di Jawa dan Bali, bisnis ini sudah cukup lama dikenal. Di Lombok, tidak banyak bahkan bisa dikatakan hanya satu dua saja yang menggeluti usaha ini. Salah satunya adalah usaha yang dirintis Ir. M. Mahrup Kaseh sejak tahun 1989. Hingga kini usaha itu masih bertahan dan terus melakukan inovasi pada teknik budidaya dan pengembangan pemasarannya sehingga menjadi agribisnis yang utuh dan mudah dilaksanakan sebagai teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.

Pengembangan teknik budidaya ini dipermudah dengan menggunakan bibit sebar dedan dengan media yang mudah dan murah. Alat pres dan alat sterilisasi direkayasa sendiri sehingga mudah dilaksanakan dengan hasil yang baik. “Teknik dan alat yang digunakan merupakan hasil pencarian terus menerus,” ungkap pensiunan PNS ini yang mengaku, belajar membudidayakan jamur lewat buku, potongan-potongan koran, majalah dan informasi yang ia kumpulkan.

Di Mataram, menurut, Ir. Parman, Ph.D, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mataram, yang selama ini peduli dalam penelitian dan permasalahan jamur, animo masyarakat untuk membudidayakan jamur ini terbilang kurang. “Padahal untuk komoditi ekspor usaha ini sangat menjanjikan,” katanya.

Berbeda dengan jamur merang yang perlu ruangan tertutup dan hangat serta kedap udara, jamur tiram tidak memerlukan suhu tertentu atau ruang kedap udara. “Pada suhu biasa, jamur tiram bisa tumbuh dengan baik,” lanjutnya. Jamur tiram yang umum dikembangkan untuk budidaya biasanya berwarna putih, sementara warna coklat dan merah muda tidak. Menyoal rasa dari jamur tersebut, ungkap Parman, tergantung medianya. Sementara itu, untuk menghasilkan jamur sesuai warnanya tergantung pada warna asal bibit yang ditanam.-niek

Cermati Ciri-ciri Jamur Beracun

SECARA umum, jamur termasuk dalam jenis sayuran yang mengandung sedikit sekali protein dan hidrat arang, seperti halnya kangkung, ketimun, kool, kembang kool, tauge, sawi. “Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya,” kata Ni Nyoman Widarmini, S.K.M. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum, Mataram.

“Tentunya, jamur yang boleh dimakan atau tidak beracun,” ungkap Ir. Parman, Ph.D. Menurutnya, jamur tiram, yang berkembang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur tiram putih, coklat dan merah muda. Jamur ini, tumbuh di kayu yang mengalami pelapukan atau yang sudah mati, tumbuh pula di ilalang, sampah tebu dan sampah sagu.

Jamur tersebut tidak beracun dan boleh dimakan. Jamur yang tergolong beracun dan tidak dapat dikonsumsi, lanjutnya, jika jamur tiram misalnya, tumbuh di kayu yang masih hidup, tumbuh di bangkai, kotoran ayam atau binatang ternak. “Jika termakan, jamur jenis ini akan menyebabkan keracunan dan dalam konsentrasi racun tinggi dan bisa menyebabkan kematian,” ujarnya.

Ciri-ciri jamur beracun antara lain, umumnya tangkai payungnya bergelang atau terdapat lingkaran menyerupai cincin. Tapi, katanya, tidak semua yang bergelang merupakan jamur beracun. Selain itu, aroma jamur akan terasa berbau sangat tajam, jika dipotong terdapat cairan kekuning-kuningan dan berlendir. “Jika terdapat tanda-tanda tersebut, sebaiknya jamur ini jangan dikonsumsi,” saran Parman. Jamur ini biasanya tumbuh liar, sementara jamur yang sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi tentunya jamur yang tidak beracun, jadi tidak perlu khawatir membeli jamur apalagi yang sudah dalam kemasan.

Selain dikonsumsi dalam keadaan segar, jamur juga kerap dikonsumsi setelah mengalami pengeringan untuk pengawetan. Menurut Nyoman, antara jamur segar dan jamur kering terdapat perbedaan kalori yang dikandungnya. Jamur segar dalam 100 gram di dalamnya terdapat 15 kalori, protein 3,8 gram, lemak 0,6 gr, karbohidrat 0,9 gr, kalsium 3 mg, zat besi 1,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan vitamin C 5 mg.

Sedangkan pada 100 gram jamur kering terdapat 128 kalori, protein 16 gram, lemak 0,9 gr, karbohidrat 64,6 mg, kalsium 51 mg, zat besi 6,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan tidak mengandung vitamin C. “Jamur segar maupun jamur kering keduanya tidak mengandung vitamin A,” ujar Nyoman yang sudah 15 tahun bekerja di Instalasi Gizi ini. - niek

Belum Mampu Memenuhi Permintaan

BUDIDAYA jamur tiram dengan memanfaatkan limbah gergajian kayu yang dilakukan Mahrup, bisa dijadikan alternatif usaha yang mempunyai prospek sangat baik. Selain memakai bahan yang mudah dan murah, Mahrup juga membuat sendiri bibit induk dan bibit sebar jamur tiram ini, sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bibit.

Dalam waktu dua setengah bulan bibit tersebut sudah dapat dipakai, lebih cepat ketimbang proses yang selama ini dikenal yang memakan waktu sekitar empat bulan. Membuat bibit induk dan bibit sebar jamur tiram dilakukan dengan menyediakan media antara lain dedak halus dan tepung jagung yang dicampur dan ditambahkan air lalu dibuat adonan atau pasta (perbandingan 2:1). Media tanam dipres dengan alat pres yang direkayasa sendiri.

Proses perawatan hingga panen dalam budidaya jamur tiram ini juga cenderung gampang. Setelah polybag-polybag dingin, bibit jamur tiram dimasukkan satu sendok di bagian atasnya dan disimpan dalam ruang inkubasi. Jumlah bibit yang dimasukkan tidak akan berpengaruh pada berat jamur yang dihasilkan melainkan proses keluarnya jamur bisa lebih cepat, kata Mahrup. Lama kelamaan, polybag-polybag tersebut nantinya akan kelihatan memutih di seluruh permukaannya. “Jika sudah putih semua, polybag tersebut dapat dipindahkan ke ruang produksi,” ujar Mahrup.

Dalam ruang produksi, perawatan sederhana dimulai dengan membersihkan ruangan tiap pagi serta menyemprot polybag dengan air untuk tetap menjaga kelembaban ruangan serta merangsang tumbuhnya jamur tiram. Agar proses tumbuhnya jamur cepat, maka kapas penutup mulut polybag dibuka beberapa sebelum jamur keluar. Dalam waktu 15 hari dalam ruang produksi, jamur akan terlihat bermunculan, keluar dari mulut-mulut polybag. Tidak lama setelah itu, selang tiga hari kemudian jamur tiram pun mekar dan panen pertama pun bisa dimulai.

Selain menjual jamur segar, Mahrup juga menyediakan polybag-polybag berisi jamur tiram berumur sehari untuk dijual. “Artinya, kami menjual jamur yang sudah keluar dan kemungkinan sudah tidak lagi terkontaminasi,” katanya. Untuk pemasaran polybag jamur siap panen ini, Mahrup memakai sistem mitra, mereka yang sengaja membeli polybag-polybag jamur siap panen tersebut. Sampai saat ini, ia memiliki setidaknya enam mitra yang rutin mengambil masing-masing 200 polybag tiap bulannya. Di samping itu, pemasaran dilakukan di pasar-pasar tradisional sekitar Mataram.

Permintaan akan jamur siap panen dalam polybag tersebut, menurutnya, sangat tinggi, hanya saja ia belum mampu menyediakannya. Tahun 2005 ini ia telah membuat bibit lebih banyak dari biasanya, serta sedang melakukan proses percobaan pada kemungkinan bisa menambah berat jamur tiram saat dipanen setidaknya dua ons. Di rumahnya, tempat budidaya jamur tiram sampai saat ini, Mahrup telah banyak memberikan pelatihan-pelatihan pada mahasiswa tentang budidaya jamur tiram juga sebagai tempat PKL, sumber bahan penelitian dan konsultasi teknologi serta menjadi tempat tujuan agrowisata yang sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di NTB. –niek

sumber :


http://www.cybertokoh.com/news/jamur.htm

Edisi 325 / Minggu / 1 3 Maret 2005
READ MORE - Budidaya Jamur Tiram dengan Media Murah