Showing posts with label Rotasi bumi. Show all posts
Showing posts with label Rotasi bumi. Show all posts

Dec 15, 2009

Proses Rotasi bumi-Bukti, Efek dan Perubahan Kecepatan Rotasi Bumi ( 2 )

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kecepatan bumi berotasi ternyata berfluktuasi. Terkadang melambat, kadang juga bisa lebih cepat. Beberapa penelitian yang menguatkan ini adalah penelititan Richard F Stephenson (2002), yang berusaha menunjukkan fluktuasi rotasi dengan mengamati dokumen-dokumen di masa lalu (hingga 700 bc) yang mencatat mengenai perubahan panjangnya hari. C Dennis, A Schreider, P Varga, dan J Zavoti (2002) dalam pengamatannya pada catatan fosil dan tidal deposit menemukan adanya perbedaan yg sangat mencolok dalam panjang hari di dua kelompok jaman yang berbeda. Pada masa proterozoic lamanya hari 5 kali lebih pendek daripada jaman phanerozoic.
Sudut rotasi bumi ternyata juga tidak tetap. Michelle Prevot, Estelle Mattern, Pierre Camps, dan Marc Daignieres berhasil menunjukkan bahwa poros berputar bumi juga berubah-ubah. Untuk jangka waktu yang panjang bumi mengalami apa yg mereka sebut Strict Standstill atau masa dimana poros berputar (bukan poros magnetik) tidak mengalami perubahan. Ke tiga masa strict standstill itu adalah present s/d 80ma, dan 150ma s/d 200 ma. Di luar masa itu sebenarnya perubahan kecil yang terus menerus selalu terjadi. Perubahan yang besar dan mendadak diketahui terjadi 110ma, dimana poros berputar bumi berpindah 20 derajat.
Apa penyebabnya? Ketiga artikel di atas, ditambah pula dengan hasil penelitian Philipe Machetel dan Emillie Thomassot menunjukkan bahwa mass distribution, atau transfer materi yang besar baik antar layer mantel bumi ataupun dari berputarnya materi mineral di dalam dan perut bumilah yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut. Beberapa peneliti juga menyebut tentang perubahan kemampatan materi penyusun bumi, tapi hal tersebut masih diperdebatkan.
jadi pada dasarnya, perubahan rotasi, baik kecepatan maupun sudutnya, dipengaruhi oleh faktor internal dari dalam bumi sendiri.
Dampaknya,Dennis, dkk menunjukkan bahwa walaupun kecepatan rotasi pada masa proterozoic dan phanerozoic berbeda secara mencolok, perbedaan medan magnetik bumi pada kedua jaman itu ternyata sama sekali tidak berubah. Efek perubahan rotasi yang sudah terjadi, mungkin seperti yang ditemukan oleh Christopher M Cox dan Benjamin F Chao. Mereka menemukan bahwa sejak tahun 1998 Oblateness (ke pepat-pejalan) bumi justru mengalami peningkatan. Seperti yang kita ketahui, selama ini bumi selalu mengalami penurunan oblateness, dan dipercaya akan terus demikian.
Gianni A Dalu (1998), dari penelitiannya yang sudah dilakukan sejak 1989, menunjukkan bahwa rotasi memiliki dampak pada fluktuasi sea breeze (semacam angin laut yang membawa uap air ke daratan, sangat penting untuk industri-industri agraris di negara-negara seperti Perancis atau Italy.


http://forum.kompas.com/sains
http://id.wikipedia.org/wiki/Rotasi
http://pa-pariaman.net
http://bayuah.blogspot.com
READ MORE - Proses Rotasi bumi-Bukti, Efek dan Perubahan Kecepatan Rotasi Bumi ( 2 )

Proses Rotasi bumi-Bukti, Efek dan Perubahan Kecepatan Rotasi Bumi ( 1 )



Maha besar Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Bumi sebagai tempat tinggal manusia yang tampak luas ternyata hanya merupakan satu titik diantara jutaan bahkan milyaran benda-benda langit yang berada di sekitarnya.
Bumi sebagai salah satu benda langit yang tampak sebagai benda mati ternyata sebenarnya bergerak dan berputar dalam kecepatan tinggi; untuk menempuh jarak sejauh kurang lebih 40.000 km sebagai jarak lingkaran Khatulistiwa hanya memerlukan waktu 24 jam yang berarti bumi berputar dalam kecepatan yang tidak kurang dari 1.667 km/jam. Manusia dan benda-benda lainnya tidak terpengaruh dengan perputaran bumi ini tiada lain sebaai bukti kekuasaan sang pencipta yang telah menciptakan suatu keseimbangan yang dikenal dengan istilah daya gravitasi bumi.
Al-Qur'an sebagai sumber kebenaran memberikan gambaran perputaran bumi (rotasi bumi) ini dalam surat An-Najml ayat 88 yang artinya:
Dan kamu lihat gunung-gunung yang kamu sangka diam, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan

Rotasi bumi atau perputaran bumi pada porosnya terjadi pada garis/poros/sumbu utara-selatan (garis tegak dan sedikit miring ke kanan). Jadi garis utara-selatan bumi tidak berimpit dengan sumbu rotasi bumi, seperti yang terlihat pada "globe bola dunia" yang digunakan dalam pelajaran ilmu bumi/geografi. Kecepatan putaran ini diukur oleh banyaknya putaran per satuan waktu. Misalnya bumi kita berputar 1 putaran per 24 jam. Untuk rotasi mesin yang berputar lebih cepat dari rotasi bumi, kita pakai satuan rotasi per menit (rpm).
Akibat dari gerak rotasi ini, maka benda tersebut akan mengalami gaya sentrifugal, yaitu jenis gaya dalam ilmu fisika yang mengakibatkan benda akan terlempar keluar. Hal ini akan nampak terasa pada saat kita naik mobil yang melewati tikungan melingkar. Pada saat mobil ini bergerak melingkar dengan kecepatan agak tinggi, maka penumpang dalam mobil akan merasa terlempar ke samping (ke sisi luar lingkaranitu) sebagai akibat dari adanya gaya sentrifugal.
Buktinya terjadinya rotasi bumi adalah terlihatnya matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Sumbu rotasi bumi (sumbu imajiner bumi) membentuk sudut 23,5 terhadap sumbu revolusinya. Sudut ini hampir tidak berubah. Buktinya, kutub utara bumi selalu mengarah ke satu arah, yaitu ke arah bintang utara.
Miringnya sumbu rotasi ini dibuktikan dengan adanya empat musim di belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Ketika kemiringannya mengarah ke matahari, di belahan bumi utara yang mendapat lebih banyak sinar matahari, terjadi musim panas. Sebaliknya, di belahan bumi selatan terjadi musim dingin. Di daerah kutub utara tidak ada malam (terus terang sepanjang hari), sebaliknya di daerah kutub selatan tidak ada siang (terus siang). Ketika kemiringanya menjauhi matahari, terjadi musim dingin di utara dan musim panas di selatan. Di antara kedua posisi itu terjadi musim semi dan musim gugur. Mengenang trageditsunami Aceh..
READ MORE - Proses Rotasi bumi-Bukti, Efek dan Perubahan Kecepatan Rotasi Bumi ( 1 )

Belajar-Pengaruh Rotasi Bumi

Rotasi bumi didefinisikan sebagai peristiwa berputarnya bumi pada poros atau sumbunya. Arah rotasi bumi yaitu dari arah barat ke timur. Arahnya persis sama dengan arah revolusi bumi mengelilingi matahari.
Kala rotasi bumi adalah 23 jam 56 menit 4 detik,selang waktu ini disebut satu hari. Sekali berotasi, bumi menempuh 3600bujur selama 24 jam. Artinya 10bujur menempuh 4 menit. Dengan demikian, tempat-tempat yang berbeda 10 bujur akan berbeda waktu 4 menit. Rotasi bumi menimbulkan beberapa peristiwa yaitu :
Pergantian siang dan malam
Perbedaan waktu berbagai tempat dimuka bumi
Gerak semu harian bintang
Perbedaan percepatan gravitasi di permukaan bumi
Pergantian siang dan malam
Permukaan bumi yang sedang menghadap matahari mengalami siang. Sebaliknya permukaan bumi yang membelakangi matahari mengalami malam. Akibat rotasi bumi, permukaan bumi yang menghadap dan membelakangi matahari berganti secara bergantian. Ini adalah peristiwa siang dan malam. Karena periode peredaran semu harian matahari 24 jam, maka panjang siang atau malam rata-rata 12 jam. Panjang periode siang atau malam hari di khatulistiwa hampir sama sepanjang tahun, yaitu berlangsung selama 12 jam. Kadang-kadang ada perbedaan sedikit yaitu panjang siang tidak sama dengan panjang malam. Suatu waktu panjang siang lebih besar dari 12 jam, dan ini berarti panjang malam hari kurang dari 12 jam. Perbadaan ini menjadi lebih besar untuk tempat-tempat yang jauh dari khatulistiwa (misalnya di daerah lintang dan kutub).
Perbedaan waktu berbagai tempat dimuka bumi
Seluruh permukaan bumi dibagi-bagi menurut jaring-jaring derajat. Jaring-jaring derajat itu dinamakan garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis yang sejajar dengan garis tengah khatulistiwa,sedang garis bujur adalah garis yang sejajar dengan garis tengah kutub. Arah rotasi bumi sama dengan arah revolusinya, yakni dari barat ke timur. Itulah sebabnya matahari selalu terbit di timur terbenam di barat. Orang-orang yang berada di daerah timur akan mengamati matahari terbit dan matahari terbenam lebih cepat dari pada daerah yang berada di sebelah barat. Wilayah yang berada pada sudut 15 0 lebih ke timur akan mengamati matahari terbit lebih cepat satu jam.
Namun, ada waktu yang berlaku secara international yang disebut waktu GMT (Greenwich Mean Time ) sebagai waktu pangkal yang berada pada garis bujur nol derajat yang melalui kota Greenwich di London. Sebagai contoh Indonesia memiliki tiga bujur standar yaitu 1050, 1200, 1350 Bujur Timur, dengan demikian waktu lokalnya berturut-turut adalah waktu Greenwich ditambah 7 jam, 8jam, dan 9 jam. Jika letak bujur standar itu disebelah barat bujur nol, maka waktunya dikurangi, dan jika letak bujur standar itu di sebelah timur bujur nol, maka waktunya bertambah.
Gerak semu harian bintang
Bintang-bintang (termasuk matahari) yang tampak bergerak sebenarnya tidak bergerak. Akibat rotasi bumi dari arah barat ke timur, bintang-bintang tersebut tampak bergerak dari timur ke barat. Rotasi bumi tidak dapat kita saksikan, yang dapat kita saksikan adalah peredaran matahari dan benda-benda langit melintas dari timur ke barat. Oleh karena itu kita selalu menyaksikan matahari terbit disebelah timur dan terbenam di sebelah barat. Pergerakan dari timur ke barat yang tampak pada matahari dan benda-benda langit ini dinamakan gerak semu harian bintang. Karena gerak semu ini dapat di amati setiap hari, maka disebut gerak semu harian.
Waktu yang diperlukan bintang untuk menempuh lintasan peredaran semunya adalah 23jam 56 menit atau satu hari bintang. Periode peredaran semu harian matahati dan bulan tidak 23 jam 56 menit. Satu hari matahari tepat 24 jam sedang satu hari bulan lebih lambat lagi yaitu 24 jam 50 menit, hal ini disebabkan karena kedudukan bintang sejati di langit selalu tetap. Matahari memiliki periode semu harian yang berbeda akibat revolusi, sedangkan bulan sebagai satelit bumi memiliki peredaran bulanan mengitari bumi.
Perbedaan percepatan gravitasi di permukaan bumi
Rotasi bumi juga menyebabkan penggembungan di khatulistiwa dan pemapatan di kedua kutub bumi. Selama bumi mengalami pembekuan dari gas menjadi cair kemudian menjadi padat, Bumi berotasi terus pada porosnya. Ini menyebabkan menggebungan di khatulistiwa dan pemepatan di kedua kutub bumi sehingga seperti keadaannya sekarang. Karena percepatan gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jari-jari, maka percepatan gravitasi tempat-tempat di kutub lebih besar daripada disekitar khatulistiwa.

Mengenang tragedi tsunami di Aceh.
Sumber: http://www.e-dukasi.net
READ MORE - Belajar-Pengaruh Rotasi Bumi

Iptek : Badan Sistem Referensi dan Rotasi Bumi Internasional

International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) atau Badan Sistem Referensi dan Rotasi Bumi Internasional adalah badan yang bertanggung jawab dalam menentukan standar waktu secara global dan frame of reference, khususnya melalui kelompok Earth Orientation Parameter (EOP) dan International Celestial Reference System (ICRS) miliknya. Salah satu fungsi IERS adalah mengumumkan detik kabisat.
Organisasi ini dulunya dikenal dengan nama International Earth Rotation Service hingga 2 April 2002, saat namanya diganti menjadi seperti yang saat ini. Singkatan IERS tetap dipertahankan.
Sub-bureau for Rapid Service and Predictions of Earth Orientation Parameters milik IERS yang terletak di United States Naval Observatory, memonitor rotasi bumi.

sumber : http://id.wikipedia.org/
READ MORE - Iptek : Badan Sistem Referensi dan Rotasi Bumi Internasional

Bergesernya Beberapa Pulau Akibat Gempa ->> Mengenang Tragedi Tsunami Aceh



Masih terngiang dalam ingatan kita gempa yang mengguncang kota Padang beberapa waktu lalu. Sekitar 5 tahun yang lalu juga di Aceh tepatnya tanggal 26 Desember di minggu pagi pada penghujung tahun itu. Hanya dalam waktu yang singkat, lebih dari 100,000 jiwa melayang.
Bencana ini memang tidak dapat dipandang lagi sebagai sekedar bencana nasional bagi beberapa negara. Ini adalah tragedi kemanusiaan internasional. Tsunami yang menjadi salah satu ekses gempa ini menyapu ribuan kilometer pantai di sekitar lautan Hindia. Bahkan tercatat ada korban hingga di Timur Afrika.
Gempa yang terjadi pada daerah subduksi (penunjaman) sepanjang 1200 km ini memang dasyat. Tercatat skala magnitudo gempa adalah 9.0; artinya, gempa ini setara dengan energi yang dikeluarkan dari ledakan 32 milyar TNT! Rekor terakhir gempa sebesar ini adalah gempa di Chili tahun 1960.
Gempa yang terjadi pada pada daerah subduksi antara Lempeng Hindia (Indian Plate) dan Lempeng Mikro Burma (Burma Microplate) ini membuat Indonesia harus memetakan kembali wilayahnya. Ken Hudnut, staf ahli US Geological Survey mengatakan bahwa gempa diperkirakan telah menggeser pulau-pulau kecil sejauh 20meter. Sementara wilayah barat laut Sumatera bergeser 36meter ke barat daya. Menurut Bill McGuire, geofisis dari University College London, UK, slip yang menyebabkan keruntuhan sebesar 15 meter ini membuat pulau-pulau di kepulauan Andaman dan Nicobar naik; sementara itu, tinggi permukaan laut di kota Banda Aceh naik. Hal serupa juga diungkapkan oleh Stuart Sipkin, geofisis dari USGS National Earthquake Information centre. Secara lebih detail, Sipkin mengatakan bahwa perubahan permukaan Bumi yang terjadi cenderung vertikal. Gempa ini menyebabkan lempeng Hindia melasuk lebih dalam ke bawah lempeng Burma sehingga menyebabkan "uplift".
Minggu pagi tanggal 26 Desember 2004 itu bumi benar-benar bergetar. Bumi dapat dianalogikan sebagai sebuah gasing yang berputar. Sebuah sentuhan tangan (vektor gaya dari luar gasing) dapat membuat gasing itu berputar tidak stabil. Hal inilah yang terjadi hari Minggu kelam itu. Bedanya, vektor gaya yang menyebabkan Bumi bergetar tidak stabil adalah dari dalam, yaitu dari tenaga endogen Bumi, tepatnya gempa. Ilmuwan NASA memperkirakan bahwa kemiringan Bumi kini bertambah 2,5 cm akibat gempa ini. Selain itu, periode rotasi Bumi berkurang sekitar tiga mikrosekon akibat gempa ini.
sumber : www.itb.ac.id
READ MORE - Bergesernya Beberapa Pulau Akibat Gempa ->> Mengenang Tragedi Tsunami Aceh

Nov 29, 2009

Bumi Berotasi Semakin Lambat

Bumi berotasi pada porosnya menciptakan siang dan malam. Namun, ada ketakutan putaran poros Bumi itu tidak stabil. Lalu akankah panjangnya waktu dalam satu hari bertambah?
Teori mengenai pergerakan Bumi yang mengelilingi Matahari dan berputar pada porosnya baru terpublikasi pada 1543 lewat buku yang ditulis Nicolaus Copernicus. Dalam bukunya, Copernicus mengungkapkan teori-teori yang menyatakan bahwa Matahari merupakan pusat tata surya kita.  Sebelumnya, ahli astronomi asal Italia itu tidak berani mengungkapkan teorinya karena bertentangan degan pendapat pemegang kekuasaan saat itu. Tiga puluh tahun kemudian, ia baru berani mempublikasikan teori-teori yang menyatakan Bumi bukanlah pusat tata surya.



Pada awalnya, banyak orang tidak sependapat dengan Copernicus. Pasalnya, keyakinan bahwa Bumi merupakan pusat tata surya telah ada sejak zaman Yunani Kuno. Saat itu, keyakinan mengenai hal tersebut “dibuktikan” dengan apa yang dilihat banyak orang, yaitu Matahari bergerak dari timur ke barat. Untuk mematahkan anggapan kebanyakan orang itu, Copernicus pun memberikan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Teorinya itu juga ia dukung dengan berbagai data. Ia mengatakan terjadinya siang malam bukan disebabkan Matahari bergerak mengelilingi Bumi, melainkan Bumi berputar pada porosnya (rotasi). Bumi pun tidak diam melainkan berputar mengelilingi Matahari sehingga terciptalah “waktu” satu tahun untuk satu putaran mengelilingi Matahari (revolusi).  Sekitar 70 tahun kemudian, teori yang dikemukakan Copernicus itu akhirnya diyakini banyak orang. Hingga kini, secara umum, teori itulah yang dipakai untuk menjelaskan banyak hal terkait beberapa peristiwa astronomi, seperti terjadinya siang dan malam.

Apabila pada era Copernicus rotasi Bumi hanya dihitung sebagai satu siang dan satu malam tanpa memedulikan berapa panjang waktunya, kini satu putaran Bumi pada porosnya terhitung menghabiskan waktu 23 jam 56 menit 4 detik. Setidaknya, perhitungan itu diyakini banyak orang. Kini, dengan menggunakan jam atom, tiap milidetik waktu yang diperlukan Bumi berotasi dapat dihitung. Dari situlah akhirnya diketahui ternyata rotasi Bumi dari waktu ke waktu semakin melambat.


Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan waktu yang dibutuhkan Bumi berotasi saat ini jauh lebih lama dibandingkan dengan masa-masa awal terbentuknya Bumi. “Sekitar 620 juta tahun lalu, satu hari di Bumi membutuhkan waktu sekitar 22 jam. Hal itu diketahui dari data-data geologi dan astronomi yang ada,” ujar Thomas.  Semakin Melambat  Dari perhitungan astronomis diketahui rotasi Bumi melambat pada tingkat 0,005 detik per tahun. Perhitungan itu menghasilkan kesimpulan bahwa Bumi memerlukan waktu berotasi selama 14 jam pada 4,6 miliar tahun lalu. Jumlah yang juga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan angka sebelumnya yang diutarakan Thomas, yaitu 22 jam pada jutaan tahun lalu.  Angka yang lebih mengejutkan lagi adalah 6 jam untuk satu kali rotasi Bumi pada awal pembentukan Bumi. Tidak heran kalau dibandingkan dengan kecepatan rotasi pada saat itu yang mencapai 6.400 kilometer per jam. Bandingkan dengan kecepatan rotasi Bumi yang kini tercatat 1.600 kilometer per jam. Masih dari perhitungan-perhitungan astronomis, didapatkan angka bahwa Bumi dalam satu harinya berotasi melambat 1 hingga 3 milidetik. Apabila dihitung-hitung, setiap 100 tahun, waktu rotasi Bumi dalam satu harinya bertambah lama 30 detik sampai 2 menit. Penambahan waktu itu mengakibatkan pada tahun-tahun tertentu saat hendak berganti tahun, para ilmuwan sepakat menambah waktu. Pada 2005 misalnya, saat itu di penghujung 31 Desember 2005 waktu ditambahkan satu detik sebelum memasuki 1 Januari 2006. Hal itu dilakukan untuk menyesuaikan penentuan waktu menggunakan jam atom dengan perhitungan rotasi Bumi. Penambahan waktu atau dikenal pula dengan lompatan waktu itu dilakukan agar semua perhitungan waktu di dunia sama. Hal itu terkait erat dengan banyak hal, seperti telekomunikasi dan jadwal transportasi. Penambahan waktu itu dilakukan sejak tahun 1972 berdasarkan kesepakatan internasional tentang penetapan waktu dunia. Tercatat, antara tahun 1972 hingga 1983, waktu ditambahkan satu detik per tahunnya. Agar terus sesuai, pengurangan waktu juga dilakukan pada pertengahan ‘80-an dan ‘90-an.


Menurut Thomas, perubahan kecepatan rotasi Bumi yang berpengaruh terhadap lama waktu dalam satu hari di Bumi disebabkan faktor luar Bumi (eksternal). Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perubahan kecepatan rotasi Bumi disebabkan karena Bumi semakin berat. Namun, kata Thomas, anggapan itu tidak teruji. Satu-satunya massa yang menambah berat Bumi dari luar adalah batu-batuan luar angkasa yang jatuh ke Bumi. “Itu juga tidak terlalu memberatkan Bumi hingga bisa menyebabkan rotasi Bumi melambat,” ujarnya. Lebih lanjut Thomas mengatakan perubahan kecepatan rotasi Bumi yang kian melambat disebabkan efek pasang surut bulan terhadap Bumi. Hal itu terkait erat dengan pengaruh gaya tarik Bumi dengan Bulan. Efek yang sama membuat Bulan semakin menjauh dari Bumi. Karena semakin jauh itulah, Bulan mengitari Bumi lebih lama. Apabila kondisinya terus berlangsung seperti itu, dalam waktu ratusan juta tahun ke depan, akhirnya Bumi dan Bulan akan sinkron. Artinya, saat hal itu terjadi, waktu satu hari di Bumi akan sama dengan putaran Bulan mengelilingi Bumi. Tidak heran, jika saat itu tiba bulan hanya akan tampak di satu wilayah Bumi.
READ MORE - Bumi Berotasi Semakin Lambat