Feb 9, 2010

Recall Toyota dan Citra Otomotif Jepang

Tatsuo Yoshida, seorang analis otomotif di UBS Tokyo mengatakan "Selama Toyota tidak membuat kesalahan dalam tanggung jawab mereka kepada konsumen, media, dan pejabat pembuat peraturan, maupun Kongres AS, reputasi perusahaan takkan terpengaruh dalam jangka panjang," ujar Tatsuo Yoshida, analis otomotif di UBS Tokyo, kemarin. "Namun, pasar sebaiknya tetap berhati-hati tentang dampak kuantitatif serta efek negatif dari pemberitaan pers," tambahnya.

Senada dengan Clive Wiggins analis Macquarie, yang berbasis di Tokyo. Ia memprediksi, keadaan akan membaik, segera setelah Toyota tidak lagi menjadi pemberitaan utama di media-media. "Kami yakin sebagian besar konsumen akan kembali, meskipun Toyota jelas memperlihatkan bahwa produk-produk dasarnya cacat," ujarnya.

Seperti diketahui, Toyota menarik kembali 2,3 juta mobil yang diproduksi di AS. Hal ini karena kesalahan pada pedal gas yang berpotensi membahayakan para pengendaranya. Sedangkan pada 2009 lalu, Toyota juga menarik 4,2 juta mobilnya, terkait laporan kerusakan mesin yang tak disengaja.

Hal ini tak pelak membawa kekhawatiran pada industri otomotif di Jepang. Salah satunya Executive Vice President Honda, Koichi Kondo. Menurutnya, masalah Toyota akan menghantam citra mobil Jepang sebagai kendaraan yang layak dipercaya. "Toyota adalah ujung tombak otomotif Jepang. Hal ini menimbulkan keraguan pasar pada kehandalan mobil Jepang," katanya.

Honda sebagai produsen mobil Jepang kedua terbesar, setelah Toyota, masih mampu mencatatkan laba bersih enam kali lipat dalam kuartal Oktober-Desember sebesar Y134,63miliar dari tahun sebelumnya. Kenaikan dipicu meningkatnya permintaan mobil di China dan India selama tiga bulan terakhir 2009.

Pasar AS melihat pemulihan ekonomi yang moderat, meskipun penjualan unit di Amerika Utara dan Eropa masih di bawah pencapaian tahun lalu. Perseroan pun mengekspektasikan laba tahun keuangan yang berakhir 31Maret mencapai Y265 miliar, secara signifikan lebih dari estimasi sebelumnya Y155 miliar. Hal ini didukung stabilnya yen atas dolar AS.

Sementara Mitsubishi Motors juga membukukan laba bersih Y10,7 miliar kuartal tiga kemarin, lebih baik daripada rugi bersih Y17,54 miliar year on year. Ini adalah pertama kalinya dalam lima kuartal.

Perseroan juga menaikkan target volume penjualan kendaraan sebesar 3%, menyarankan pemotongan biaya dan fokus pada promosi penjualan di daerah pemasaran. Namun, eksekutif Mitsubishi Masao Ohmichi menyuarakan pesimisme terkait kasus Toyota.

Menurutnya, Toyota bisa menodai citra merek perusahaan mobil Jepang lain, mengingat citranya sebagai produsen terkemuka kualitas kendaraan. "Karena Toyota adalah produsen simbolis, (penarikan kembali) bisa merusak citra dari semua pembuat mobil Jepang," tukasnya.

Kendati demikian, Ohmichi tidak menyangkal kemungkinan bahwa para produsen mobil Jepang lainnya akan membujuk pelanggan dari Toyota. "Tentu saja itu mungkin terjadi. Perusahaan-perusahaan seperti Honda dengan citra merek yang kuat mengambil kesempatan," ujarnya.

Produsen otomotif yang berbasis di Hiroshima, yang sahamnya dimiliki 11% oleh Ford Motor Corp ini, juga membukukan laba operasional sebesar Y11,1 milyar, setelah rugi operasional Y24,2 miliar pada 2008. Adapun penjualan melonjak 9% menjadi Y557,6ketimbang Y512,4 miliar pada periode sama 2008.

Hal senada diungkapkan Mitsuru Kurokawa, analis di perusahaan konsultan IHS Global Insight di Tokyo. Menurutnya, beberapa perusahaan akan terimbas untung dari masalah Toyota. "Kerugian Toyota akan membantu merek Jepang lain, seperti Nissan dan Honda, serta Hyundai dari Korea Selatan, atau Ford," imbuhnya.

Lihat saja angka penjualan Januari, dimana Honda menjual 2,9% lebih kendaraan di AS dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, penjualan Toyota AS merosot 8,7%. Saingan Toyota yang lain, seperti General Motors Co dan Ford Motor Co, juga mengambil langkah ofensif dalam memikat pelanggan Toyota yang kecewa. Mereka menawarkan US$ 1.000 untuk menukar Toyota mereka untuk membeli mobil baru atau truk.

Ada Baiknya Dibaca



No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget